Di Indonesia, istilah “halal” sering diasosiasikan dengan label pada kemasan atau sertifikat dari lembaga resmi. Namun, dalam industri daging, kehalalan sebenarnya jauh melampaui sekadar dokumen administratif. Proses pemotongan halal adalah rangkaian tata cara yang dirancang untuk memenuhi syariat Islam sekaligus menjamin mutu daging yang sampai ke konsumen. Artinya, label ini bukan hanya ritual, tetapi juga mencerminkan standar etika, higienitas, dan kepercayaan.
Apa yang dimaksud dengan pemotongan halal?
Pemotongan ini berarti hewan disembelih sesuai syariat: dilakukan oleh Muslim yang kompeten, menggunakan pisau tajam yang tidak menyakiti hewan berlebihan, serta menyebut nama Allah sebelum pemotongan. Proses ini sekaligus memastikan darah hewan keluar sempurna, yang berpengaruh pada kebersihan daging serta ketahanannya.
Keunggulan dari metode ini bukan hanya soal status keagamaan, tetapi juga terkait kualitas produk. Daging yang dipotong dengan cara halal umumnya lebih segar, karena pengeluaran darah dilakukan optimal sehingga potongan daging lebih higienis dan tahan disimpan. Prinsip ini sejalan dengan konsep animal welfare—hewan diperlakukan dengan baik, stres diminimalisir, sehingga hasil dagingnya pun lebih baik.
Bagi konsumen Muslim, sertifikasi halal dari lembaga resmi seperti BPJPH adalah bukti legal yang meyakinkan. Namun, yang sama pentingnya adalah proses nyata di lapangan. Apakah pekerja di rumah potong hewan sudah tersertifikasi? Apakah peralatan dipisahkan dari bahan non-halal? Apakah lingkungan dijaga agar tidak ada kontaminasi? Pertanyaan-pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh produsen yang serius menjalankan proses halal, bukan sekadar menempelkan label.
BBF Meat Shop menjadikan proses pemotongan halal sebagai landasan filosofi, bukan sekadar kewajiban hukum. Juru sembelih yang digunakan telah mendapatkan pelatihan resmi dan memahami betul tata cara pemotongan sesuai syariat. Selain itu, BBF hanya bekerja sama dengan RPH yang memiliki sertifikat halal sekaligus sertifikasi SNI.
Lebih dari itu, transparansi menjadi nilai penting. Konsumen modern, terutama generasi muda, ingin tahu cerita di balik produk yang mereka konsumsi. Penjelasan bahwa daging dipotong secara halal, ditangani dengan fasilitas higienis, dan dipastikan aman memberikan rasa percaya yang jauh lebih besar daripada label semata.
Kesimpulannya, proses pemotongan halal adalah kombinasi antara keimanan, etika, dan ilmu pengetahuan. Ia bukan hanya prosedur teknis, tetapi wujud tanggung jawab produsen dalam menghadirkan daging yang aman dikonsumsi sekaligus memenuhi tuntutan spiritual umat Muslim.


